Naskah – Pesan Pendek

Sebuah karya dari Teater Jendela. Menceritakan tentang kisah dua orang kawan seperjuangan saat masih dalam satu tekad untuk meruntuhkan kekuasaan yang tirani.

Bagian 1 (“Aku”)

SOSOK “AKU” BERDIRI DI PANGGUNG. BEREKSPRESI MENGUNGKAPKAN KERINDUAN PADA KAWAN SEPERJUANGANNYA.

Aku telah kehilangan dia, mungkin setelah 30th sejak kerusuhan di ibukota meletus dan nyawa-nyawa membumbung bagai gelembung busa sabun yang pecah di udara, lalu tiada.

Waktu itu, di tengan kepungan panser yang siap menggilas siapa saja. Do’a ku cuma satu, semoga Tuhan belum berkenan memanggilnya. Karena aku tahu persis, jalan aspal makin menghitam disiram darah amis.

Aku masih melihat dia berdiri diatas tembok, mengibas-ngibaskan kan bendera sambil berkoar ketika masa bergerak dan merangsek istana. Sautan suara senapan menyalak menumbangkan tubuh-tubuh orang banyak. Aku ingin melihatnya kembali. Apakah ia masih berdiri dengan gila dan berkoar diatas tembok istana?. Sungguh semangat yang tak pernah putus meski hujan berusaha meredakannya. Namun ternyata, ia telah tiada.

——–PERISTIWA BAGIAN 1 :————

(GARDAZ, MAHASISWA, RAKYAT)

ILUSTRASI SAAT MENGENANG SANG KAWAN BERORASI DAN BERUSAHA MERANGSEK ISTANA BERSAMA MASSA PADA SAAT ITU

——–PERISTIWA BAGIAN 1 :————

TOKOH “AKU” FRUSTRASI MENGENANG KAWANNYA, KEMUDIAN MEMBUAT PERISTIWA :

DATANG PENARI – PENARI PAYUNG, MENARIKAN TARIAN SENDU, RINDU, DENGAN PAYUNG – PAYUNG YANG MEREKA BAWA

Senandung Gugur Bunga – (“Aku”)

Datanglah kekasihku

Kau terlalu muda dan berharga untuk binasa

Apalagi dengan cara mengenaskan

Di luar pintu gerbang, kau masih juga berjuang

Kau menghambar kearah maut

Dan berlaksa – laksa pasukan bersamamu

Namun tak mampu mengalahkan ketiranian saat itu

Terlalu cepat maut datang padamu

Yang tak kuasa membawa hari ini

Bagian 2

SOSOK AKU TETAP MENGUASAI PANGGUNG, MASIH BERUSAHA KERAS MENGENANG PERISTIWA 30 TAHUN YANG LALU. HINGGA PADA AKHIRNYA SOSOK AKU BERTEMU DENGAN KAWAN SEPERJUANGANNYA ITU.

Tidak sampai seminggu, gerakan massa itu berhasil memaksa pemimpin negara turun dan rakyatpun bisa bernafas dan terbebas dari tirani.

Peristiwa yang terus menyelimuti hidupku. Ketika aku mencoba berkoar di aspal yang menghitam bersiram darah yang lalu. Aku melihat sosok yang menjelma seperti gardas, kawan lama yang terakhir ku lihat di kerusuhan ibu kota, 30 tahun lalu.

SOSOK GARDAS PERLAHAN MUNCUL, SEOLAH-OLAH TERLIHAT DARI KEJAUHAN.

Aku coba menyorotinya dengan kedua mataku yang tajam ini, tapi ia mencegah dengan senyumnya yang sangat getir. Namun aku memaksa meyakinkan diriku sendiri dengan acungan-acungan pertanyaan.

SOSOK AKU MENDEKATI GARDAS, TERJADI DIALOG DIANTARA KEDUA SOSOK.

  • AKU:  Kawan, Kau kah itu ?
  • GARDAS: (hanya diam, dengan ekspresi yang kecewa)
  • AKU: Sejak kerusuhan itu meletus, kau kemana kawan ?
  • GARDAS: (Tersenyum pahit) Aku pulang kedesa, tapi ternyata aku tidak berbakat menjadi petani.
  • AKU: Sekarang ?
  • GARDAS: Ya tetap konsisten, jadi gelandangan. Aku tau kau menjadi gubernur, sungguh aku Sangat menyukainya (Dengan nada sinis)
  • AKU: Mungkin, aku bisa membantumu bung ?
  • GARDAS: Tidak. Aku tidak butuh pertolongan ataupun pekerjaan darimu. Aku hanya butuh hatimu.
  • AKU: Kamu ingat diskusi kita tiga puluh tahun lalu ? Diskusi yang selalu mendidih, mencoba menyingkirkan banyak sepatu laras yang berderap-derap di kepala dan rongga dada?
  • GARDAS: Kamu ingat dengan kedudukanmu sekarang ? Kedudukan yang kita rombak tiga puluh tahun lalu, namun kini kau menyalahinya. Lalu siapa lagi kini yang meneruskan perjuanganku ? Perjuangan untuk rakyat dan untuk perbaikan. Siapa yang mau ?? Aku hanya butuh hatimu kawan !!!

GARDAS PERGI MENJAUH MENINGGALKAN SOSOK AKU YANG LEMAS DAN TERSIKSA OLEH KEGETIRAN KAWAN SEPERJUANGANNYA. GARDAS MENGHILANG, SOSOK AKU TERDUDUK LEMAS DI PANGGUNG

Bagian 3 : end.

Huruf – huruf pesan pendek. Gardas yang tersenyum pahit dengan tubuhnya yang berurai kecewa. Aku mencoba mengejar memeluknya. Namun ia berusaha melesat di gumpalan awan menuju cakrawala. Aku merasa kehilangan kawan, sosok yang aku kagumi. Kini aku menyadari, aku tak mungkin bisa berkawan dengan orang suci atau manusia yang berbakat jadi nabi.

PARA PENARI PAYUNG DATANG KE PANGGUNG, MENUTUP KISAH DENGAN TARIAN YANG GELISAH, SENDU, DAN PENUH KEKECEWAAN. SATU PERSATU LAMPU PADAM, HINGGA PANGGUNGPUN MENJADI GELAP.

—————————————————

Sutradara : MissPur

Astrada : Trubus

Pemeran:

Aku : Novi Ratna

Gardas : Iqbal

Penari:

Rai, Desi, Amanda, Jefri, Rian,

Tags: ,

About ramadhaniqbal

I'm not a perfect person, but I always try to be better than yesterday.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: